Latest Entries »


20160830_053639Abu Alifa menilai bahwa dalam Islam memilih pemimpin bukan hanya sebatas urusan duniawi saja, melainkan menyangkut masalah ukhrawi (akhirat). Ada prinsip yang harus kita pegang teguh dalam memilih ataupun menentukan criteria pemimpin. Jika salah dalam memilih, maka bukan saja akan merusak tatanan kehidupan didunia saja, melainkan kitapun akan dituntut dihadapan Alloh swt kelak di akhirat.

Hal tersebut bukanlah omong kosong belaka, sekarang kita khususnya di Jakarta sedang merasakan bagaimana akibat salah dalam menentukan pilihan. Itu baru di dunia. Hal tersebut beliau sampaikan menjelang adzan maghrib dalam acara buka bersama di Jelambar Baru, yang dihadiri oleh salah satu anggota DPRD dari fraksi PDIP.

Dalam pandangan ust Abu Alifa, prinsip dasar memilih pemimpin dalam Islam sudah mulai luntur dikalangan umat Islam. Diantara penyebabnya adalah sebagian umat Islam masih mempunyai pandangan bahwa urusan kepemimpinan hanya urusan keduniaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah akhirat. Pandangan inilah menurutnya yang harus segera dirubah dari paradigma berpikir kita. Sebab lanjutnya urusan pemimpin dalam Islam bukan hanya sebatas urusan “perut” akan tetapi yang lebih penting adalah urusan syariat yang mesti kita taati.(sumber : persis.or.id)


IMG_2136Pada sidang pleno akhirnya al-ustadz Fauzi Nurwahid terpilih sebagai Pimpinan Wilayah Persatuan Islam baru untuk DKI Jakarta. Sesuai dengan tata tertib yg disepakati bahwa bakal calon dipilih peserta dari masing2 PD, dengan ketentuan jika ada lima yg memilih maka berhak menjadi calon pimpinan wilayah.

IMG_2148

Dari semua pemilih HM.Fauzi Nurwahid memperoleh sembilan (9) suara, sedangkan 3 bakal calon lainnya hanya mendapatkan dibawah lima pemilih. Sehingga sidang yg dipimpin oleh ustadz Erdian S.Ag dari PP.PERSIS memutuskan dan menetapkannya menjadi Ketua PW baru untuk 4 tahun mendatang.


(Dari Sambutan Sampai Laporan Pertanggung Jawaban)

IMG_2138Mengawali sambutan Ketua PW Persis Jakarta masa jihad 2011-2015 yang sebentar lagi akan berakhir, ustadz Kahfi Amin menyampaikan beberapa persoalan yg menyangkut kiprah Persis di ibu kota. Namun diakhir sambutannya beliau memberikan suprise kepada seluruh PD se-DKI yaitu berupa dana pembinaan. Saat ditanyakan sumber dana tersebut ust Kahfi menjelaskan bhwa dana tsb dikumpulkan atau infaq dari pengurus PW juga dari sebagian muhsinin. Harapannya dana tsb oleh PD digunakan untuk kepentingan jamiyyah sekalipun jumlahnya tidak begitu besar lanjutnya.

Sementara itu tepat pukul 20.00 wib, sesi selanjutnya adalah pembahasan tata tertib musywil. Dalam pembahasan “tatib” ini memang cukup alot, ketika pembahasan sampai kepada kepesertaan musywil. Untungnya PP.Persis yg diwakili oleh sek.bid. jamiyyah alustadz H.Erdian S.Ag. memberikan masukan. Sehingga agak reda.

Disesi akhir hari pertama adalah penyampaian LPJ yang dibacakan langsung oleh Ketua PW. Yang menarik dalam lpj tsb, adalah masalah PW DKI yang menurut Ketua merupakan langkah yg mungkin bagi kalangan tertentu merupakan keputusan yg dianggap kurang simpatik, kurang mununjukkan tunduk pada imamah. Dimana saat itu PW.Persis Jakarta menetapkan idul fitri dan Adha mengikuti pemerintah. Besok dilanjutkan dengan pandangan umum terhadap lpj dan yg lebih “menyedot” perhatian adalah pemilihan Ketua PW baru untuk masa jihad 2015-2019.


157823_1832193998_1839519056_nTanya : Assalamu’alaikum pak ustadz Abu Alifa …! Hanya satu yang saya tanyakan, apakah sah shalat idul fitri dilakukan pada hari kedua dibulan syawal? TG

Jawab : Wa’alaikumussalam … Jika hal itu dikarenakan informasi tentang jatuhnya awal bulan/hilal (Syawal) terlambat, maka tentu sama kasusnya seperti pada masa Nabi saw.

عَنْ أَبِي عُمَيْرِ بْنِ أَنَس عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنَ اَلصَّحَابَةِ أَنَّ رَكْبًا جَاءُوا فَشَهِدُوا أَنَّهُمْ رَأَوُا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ فَأَمَرَهُمْ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُفْطِرُوا وَإِذَا أَصْبَحُوا يَغْدُوا إِلَى مُصَلَّاهُمْ
Dari Abu Umair bin Anas Radliyallaahu ‘anhu dari paman-pamannya di kalangan shahabat bahwa suatu kafilah telah datang, lalu mereka bersaksi bahwa kemarin mereka telah melihat hilal (bulan sabit tanggal satu), maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar berbuka dan esoknya menuju tempat sholat mereka. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa, keterlambatan berita hilal yang baru diketahui esok harinya. Maka saat mendapat informasi itu Nabi saw memerintahkan untuk membatalkan shaumnya, karena sudah masuk 1 Syawal, akan tetapi Nabi saw melaksanakan shalatnya (Ied), keesokan harinya (tanggal 2 Syawal).

Imam As-Shan’ani berpendapat bahwa hadits tersebut diatas merupakan dalil bahwa pelaksanaan shalat Ied boleh dilakukan pada hari kedua dibulan Syawal hal ini karena informasi datangnya berita “hilal” sudah lewatnya waktu pelaksanaan shalat ied (Subulu as-Salam 2/64). Allohu A’lam


20150708_190531Ini merupakan jawaban atas beberapa inbox yang bertanya, tentang kejadian yang berulang mengenai shalat malam (tarawih) 23 rakaat dalam waktu kurang dari 10 menit.

SHALAT TERCEPAT? BAGAIMANA DENGAN BEBERAPA HADITS DIBAWAH INI?

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِبْلٍ قَالَ : ” نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَقْرَةِ الْغُرَابِ ، وَافْتِرَاشِ السَّبْعِ ، وَأَنْ يُوَطِّنَ الرَّجُلُ الْمَكَانَ فِي الْمَسْجِدِ كَمَا يُوَطِّنُ الْبَعِ. أحمد (3/428) ، وأبو داود (862)

Dari Abdirrahman bin Syibl berkata Rasulullah saw telah melarang (shalat seperti) gagak mematuk makanan , dan melarang seperti binatang buas yang mau menerkam (keduanya biasanya saat sujud), dan melarang mengambil tempat khusus (tidak mau beranjak) seperti halnya onta yang mengambil lokasi khusus. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّه عَنْهُ أنَّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم قال: ” إذا قُمْتَ إلَى الصَّلاةِ فَأَسْبغِ الوُضُوءَ، ثم أسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ، فَكَبِّرْ، ثم أقْرَأْ ما تَيَسَّرَ مَعَك مِنَ القرآن، ثم ارْكَعْ حتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعاً، ثم أرْفَعْ حتَّى تَعْتَدِلَ قائماً، ثم أسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ ساجداً، ثم أرْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جالساً، ثم أسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ ساجداً، ثُمَّ أفْعَلْ ذلك في صَلاَتِكَ كلِّها”. (أخرجه السبعة. واللفظ للبخاري. ولابن ماجه “حتى تطمئن قائما”)

Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi saw telah bersabda: Jika kamu hendak berdiri shalat , maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadap ke kiblat, lalu takbir kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Qur`an, kemudian ruku`lah hingga tumaninah rukunya, kemudian bangkitlah hingga engkau lurus berdiri, kemudian sujudlah hingga tumaninah sujud, kemudian bangkitlah hingga engkau tumaninah duduk, kemudian sujudlah hingga tumaninah sujud, lalu lakukan yang demikian dalam shalatmu semuanya. (Dikeluarkan oleh Tujuh, lafadz in versi Bukhari). Dalam riwayat Ibnu Majah “hingga tumaninah berdiri“.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَحْيَى بْنِ خَلَّادٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَمِّهِ، وَكَانَ بَدْرِيًّا قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ، فَدَخَلَ رَجُلٌ، فَصَلَّى فِي نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْمُقُهُ، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ فَرَدَّ عَلَيْهِ وَقَالَ: ” ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ” فَرَجَعَ فَصَلَّىَ، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ فَرَدَّ عَلَيْهِ وَقَالَ: ” ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ” قَالَ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا، فَقَالَ لَهُ فِي الثَّالِثَةِ أَوْ فِي الرَّابِعَةِ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، لَقَدْ أَجْهَدْتُ نَفْسِي، فَعَلِّمْنِي وَأَرِنِي، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُصَلِّيَ فَتَوَضَّأْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ، ثُمَّ كَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ قُمْ، فَإِذَا أَتْمَمْتَ صَلَاتَكَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَتْمَمْتَهَا، وَمَا انْتَقَصْتَ مِنْ هَذَا مِنْ شَيْءٍ، فَإِنَّمَا تُنْقِصُهُ مِنْ صَلَاتِكَ (رواه احمد)

Dari Ali bin Yahya bin Khallad dari bapaknya dari pamannya dan ia adalah “ahli Badr” (ikut perang badr), ia berkata; Kami pernah bersama Rasulullah saw berada di dalam Masjid. Kemudian masuklah seorang laki-laki dan shalat di salah satu penjuru Masjid. Maka Rasulullah saw memandangnya sepintas. Kemudian laki-laki itu pun mendatangi beliau dan mengucapkan salam. beliaupun memjawab salamnya dan bersabda: “Ulangi shalat kamu, karena sesungguhnya kamu belum shalat.” Beliau mengulanginya sebanyak dua atau tiga kali. Maka laki-laki itu pun berkata pada kali yang ketiga atau yang keempat, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sungguh, saya telah berusaha sekuat kemampuan. Karena itu, ajari dan tunjukkanlah (shalat yang benar) padaku.” Maka Nabi saw bersabda: “Jika kamu hendak shalat, maka berwudlu dan sempurnakanlah wudlumu. Kemudian kamu menghadap kiblat dan bertakbir lalu bacalah (sesuatu dari ayat Al Qur`an). Setelah itu, ruku’lah, sampai kamu tumaninah ruku’. Kemudian angkatlah kepalamu, hingga tumaninah berdiri. Dan sujudlah sampai tumaninah sujudmu, kemudian bangkitlah sampai tumaninah dudukmu. Kemudian kamu sujud lagi, sampai tumninah sujudmu, lalu berdirilah. Jika kamu menyempurnakan shalatmu seperti ini, maka sungguh, kamu telah menyempurnakannya, dan jika kamu mengurangi sedikit darinya, maka sesungguhnya kamu mengurangi shalatmu. (HR.Ahmad)

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ رَافِعٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ” رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

“…Dari Abi Hurairah berkata. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak sedikit yang berpuasa, tapi tidak mendaptkan nilai puasanya kecuali hanya (tahan) lapar. Dan tidak sedikit yang bangun (shalat malam/tarawih), tapi tdk mendapatkan nilai dari shalatnya kecuali hanya (kuat) terjaga. (Ibnu Majah)

Kesimpulan :
Termasuk tidak sempurna bahkan tidak sah bagi siapa saja yang mengurangi rukun shalat termasuk tumaninah dalam berdiri, sujud, duduk diantara dua sujud dan bacaan shalat. Allohu A’lam


20150621_043106Tanya : Assalamu’alaikum … pak ustadz, banyak dari para mubaligh yang menerangkan keutamaan puasa sunat yaitu enam hari dibulan syawal. Tapi begini ustadz, saya mempunyai hutang puasa yang mesti saya qodha karena halangan yang ada pada perempuan. Terus apakah saya mesti mengqadha puasa ramadhan dahulu atau puasa syawal dahulu. Wassalam IKH

Jawab : Wa’alaikumussalam … jika ibu ada tunggakan hutang shaum ramadhan, maka tentu ibu belum sepenuhnya melaksanakan shaum ramadhan tersebut. Padahal shaum enam hari dibulan syawal itu tidak berdiri sendiri, akan tetapi dikaitkan dengan kewajiban shaum di bulan ramadhan. Hal inilah yang sering kurang cermat dalam memaknai hadits. Bahkan sering kita mendengar bahwa “shaum sunat enam hari dibulan syawal sama dengan shaum kita setahun”, ini keliru. Coba perhatikan haditsnya :

عن أبى أيوب الأنصارى – رضى الله عنه – أنه حدثه أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال « من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر ». مسلم (7/334)

Dari Abi Ayyub al-Anshary radhiyallahu anhu sesungguhnya beliau memberitakan bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Siapa yang puasa ramadhan lalu diikuti dengan enam hari (puasa) dibulan syawal, maka keadaannya seolah sudah berpuasa setahun (HR.Muslim)

Ini menurut hemat kami bahwa shaum enam hari dibulan syawal itu merupakan pelengkap jika ingin pahalanya seperti shaum setahun. Kalaupun tidak sempat puasa syawal karena mengqadha ramadhan, maka keutamaan sepuluh bulan sudah diraih. Intinya shaum sebulan itu sama dengan sepuluh bulan, dan shaum sunat 6 hari dibulan syawal sama dengan 60 hari (2 bulan). Jadi jika shaum ramadhan masih berhutang, maka tentu kita belum sepenuhnya melaksanakan shaum dibulan ramadhan, karena hutangnya belum dibayar. Allohu A’lam

SUNNAH SELESAI ADZAN


mandi-bersama-suami-istri-Tanya : Assalamu’alaikum warahmattullahi wa barakatuh … ustadz Abu Alifa tolong perinciannya mengenai hal yang berkaitan selesai adzan atau kita mendengar adzan! Syukran …!

Jawab : Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh … Akhi Muhlis, ada beberapa anjuran yang dikaitkan dengan syariat adzan.

Pertama, ketika kita mendengar adzan yaitu mengikuti lafadz yang dikumandangkan oleh muadzin (yang adzan) kecuali lafadz “hayya ‘alas-shalah” dan “hayya ‘alal-falah”. hal ini disebutkan dalam keterangan.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ ‏”‏‏.‏

“…dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu’adzin (yang adzan).” (HR.Bukhary)

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، أَخْبَرَنَا أَبُو جَعْفَرٍ، مُحَمَّدُ بْنُ جَهْضَمٍ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسَافٍ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ‏.‏ فَقَالَ أَحَدُكُمُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ‏.‏ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ‏.‏ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ ‏.‏ قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ ‏.‏ قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ‏.‏ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ‏.‏ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ‏.‏ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ‏”‏ ‏

“… Jika muadzin mengucapkan Allahu Akbar, kemudian salah seorang diantaramu mengucapkan Allahu Akbar. Kemudian (muadzin) mengucapkan Asyhadu aan-laa ilaha illallah, lalu seorang itu mengucapkan asyhadu…”, kemudian muazin mengucapkan Asyhadu anna muhammadan…” lalu seorang itu mengucapkan Asyahu anna muhammadan…. Kemudian muadzin mengucapkan Hayya alas-shalah, lalu salah seorang mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kemudian (saat) muadzin mengucapkan Hayya alal-falah, lalu seorang itu mengucapkan Laa haula walaa quwwata illa billah, Kemudian muadzin mengucapkan Allahu Akbar dan ia juga mengucapkan Allahu Akbar. Kemudian muadzin mengucapkan Laa ilaha illallah, ia juga mengucapkan Laa ilaha illallah dari dalam lubuk hatinya maka ia kan masuk surga (HR.Muslim)

Kedua, selesai adzan baik muadzin atau yang mendengar. Dalam hal ini ada beberapa ketentuan dan anjuran, diantaranya :

1. Bershalawat

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، عَنْ حَيْوَةَ، وَسَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ، وَغَيْرِهِمَا، عَنْ كَعْبِ بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ “‏ إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ ‏”‏

“..Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, sesungguhnya ia penah mendengar Nabi saw bersabda : Jika kalian mendengar muadzin (adzan) maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan (muadzin), kemudian bershalawatlah atasku, sebab siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat (memberikan rahamat) padanya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah untukku “al-washilah”. Sesungguhnya (washilah) itu merupakan tempat (yang tinggi) didalam surge, yang tidak pantas (ditempati) kecuali bagi hamba dari yang dekat dengan Allah dan aku berharap Akulah yang akan menempatinya. Siapa yang memohon washilah untukku, ia akan mendapat syafaatku (HR.Muslim)

2. Membaca Do’a Washilah. Yaitu do’a yang diajarkan Nabi saw. Yang dimaksud doa’a washilah adalah :

عن جابرِ بنِ عبدِ اللهِ رضي الله عنه قال: قال رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّمَ: ((مَن قال حِينَ يَسمعُ النِّداءَ: اللهمَّ ربَّ هذه الدعوةِ التامَّةِ، والصَّلاةِ القائمةِ، آتِ محمدًا الوسيلةَ والفضيلةَ، وابعثْه مقامًا محمودًا الذي وعدتَه، حلَّتْ له شَفاعتي يومَ القيامةِ)

“… Siapa yang mendengar adzan lalu mengucapkan “Allahumma rabba hadzihid-da’watit-tammah, was-shalatil-qaimah. Aati Mumammadani-washilata wal-fadhilah, wab’atshu maqamam-mahmudanil-ladzi wa ‘adtah”.. ia akan menempati syafaatku dihari kiamah” (HR.Muslim)

3. Membaca do’a yaitu :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ، أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ، عَنِ الْحُكَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ الْقُرَشِيِّ، ح وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، عَنِ الْحُكَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ ‏”‏ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا ‏.‏ غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ ‏”‏

“…Dari Sa’ad bin Abi Waqash. Dari Rasulullah saw ia bersabda : Siapa yang mengucapkan saat mendengar adzan “Asyhadu anlaa ilaaha illa-llh wahdahu laa syarikalah wa anna muhammadan abduhu wa rasuluh radhitu billahi rabban wabimuhammadin rasulan wa bil–islami diinan”, maka diampuni baginya dosa (HR.Muslim)

4. Memperbanyak do’a

عن أنسِ بنِ مالكٍ، رضي الله عنه قال: قال رسولُ اللهِ صلَّى الله عليه وسلَّمَ: ((الدُّعاءُ لا يُرَدُّ بين الأذانِ والإقامةِ؛ فادْعوا)

Dari Anas bin Malik ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw. Do’a tidak akan tertolak antara adzan dan iqamah, maka berdo’alah kalian (diwaktu itu). (HR.Abu Ya’la, Tirmidzi, Nasa’i)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ، أَنَّ رَجُلًا ، قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا ، فَقَالَ : رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ )

Dari Abdullah bin Amr. Sesungguhnya seseorang telah berkata, wahai Rasulullah sesungguhnya muadzinin (orang2 yg suka adzan) semuanya merupakan yang mendapat keutamaan besar diantara kami. Maka Rasulullah saw bersabda “Ucapkanlah sebagaimana yang muadzinin (orang2 adzan) ucapkan, jika sudah selesai, mintalah (berdo’alah)! pasti akan diberikan (HR.Abu Dawud)

Itulah diantara anjuran yang dikaitkan dengan syari’at adzan. Allohu A’lam

“MENCINTAI” ADIK ANGKAT


apudTanya : Assalamu’alaikum … pak ustadz Abu Alifa saya “menyukai” saudara (adik) angkat. Ceritanya begini, ketika umur saya 11 tahun mamah dan bapak mengurus dari kecil seorang anak perempuan, dan sekarang adik angkat perempuan itu sudah menginjak dewasa (16 tahun). Terus terang perempuan itu “mengundang” perasaan saya bukan hanya cinta seorang kakak kepada sang adik melainkan “cinta” karena ia seorang wanita yang “cantik”. Pak ustadz apakah dibenarkan jika suatu saat saya bermaksud menikahinya? BR

Jawab : Wa’alaikumussalam … anak yang diurus oleh orang tua anda yang asalnya bukan mahram atau sepersusuan, tentu tidak menghalanginya untuk anda nikahi. Jangankan oleh anda, oleh ayah anda saja secara hukum anak yang diurus tidak menjadikannya mahram (jika sudah dewasa) dan tidak ada larangan untuk menikahinya. Sebab dalam Islam anak yang “dipungut” ataupun di adopsi tidak lantas menjadikan anak tersebut menjadi mahram. Bahkan jika tahu orang tua anak tersebut, maka nisbah anak tersebut tetap harus dikaitkan dengan ayah kandungnya.

حدثنا قتيبة حدثنا يعقوب بن عبد الرحمن عن موسى بن عقبة عن سالم بن عبد الله بن عمر عن أبيه قال ما كنا ندعو زيد بن حارثة إلا زيد ابن محمد حتى نزلت ادعوهم لآبائهم هو أقسط عند الله –
سنن الترمذي

“…Dari Salim bin Abdillah bin Umar dari ayahnya berkata. Kami semua (para shahabat) tidak pernah memanggil “Zaid bin Haritsah” kecuali dengan panggilan “Zaid bin Muhammad”, sehingga turun kepada kami (ayat) …”Dan panggilah mereka (anak-anak angkatmu) dengan memakai ayah-ayah (kandung) mereka! Hal itu lebih adil disisi Allah…(QS.al-Ahzab 5). HR.Tirmidzi

Ayat ke-5 dalam surat al-Ahzab tersebut menunjukkan bahwa status anak angkat tidak menjadikannya mahram. Hal ini ditujukkan dengan perintah Allah untuk memanggil dan menisbatkan anak angkat itu tetap kepada ayah kandungnya. Bahkan dalam sejarah Nabi shallallahu alaihi wa sallam menikahi istri mantan dari anak angkatnya Nabi. Apalagi hal itu seperti yang anda inginkan. Jadi secara hukum tidak haram anda menikahi anak angkat orang tua anda atau adik angkat anda. Allahu A’lam

MANDI BERSAMA SUAMI ISTRI


20150417_113634Tanya : Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Perkenalkan nama saya Isna H asal Kalimantan tinggal di Jakarta Selatan. Saya baru mendapatkan blog ini dua minggu lalu yang benar-benar saya cari terutama kedalaman pembahasan, terima kasih atas ilmunya. Sebelumnya saya mohon maaf karena mungkin kedangkalan ilmu yang saya miliki sehingga ikut serta menyampaikan pertanyaan. Ustadz Abu Alifa Shihab, saya sering mandi bersama dengan suami saya dalam keadaan (maaf) telanjang, yang terkadang suami suka minta berhubungan. Yang ingin saya tahu :
1. Apakah mandi bersama dalam keadaan tidak sehelai benangpun melakat, dibenarkan dalam Islam?
2. Bagaimana hukumnya berhubungan ditempat dan saat sedang mandi
Wassalam Isna H

Jawab : Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh …
Dalam beberapa keterangan dijelasakan :

حدثنا عبد الله بن مسلمة أخبرنا أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت كنت أغتسل أنا والنبي صلى الله عليه وسلم من إناء واحد تختلف أيدينا فيه – صحيح البخاري » كتاب الغسل-

“… Dari Aisyah berkata. Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam satu bejana (wadah) dan saling bergantian (mengambil) airnya. (Shahih Bukhary lihat juga Muslim 321)

وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، جَمِيعًا عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، قَالَ قُتَيْبَةُ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي الشَّعْثَاءِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: أَخْبَرَتْنِي مَيْمُونَةُ: «أَنَّهَا كَانَتْ تَغْتَسِلُ هِيَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ»

“… Dari Ibnu Abbas berkata, telah memberitahuku Maemunah (istri nabi), sesungguhnya ia pernah mandi bersama Nabi shallalahu alaihi wa sallam dalam satu wadah (Shahih Muslim Kitab Haid)

Sekalipun dalam hadits diatas tidak ada kalimat keduanya terbuka (telanjang), tapi oleh para ulama hadits tersebut menjadi dalil disamping mandi bersama antara suami istri dibolehkan, juga menjadi dalil suami dibolehkan melihat aurat istrinya, begitupun sebaliknya (Fathu al-Baary 1 : 364)

Begitupun masalah berhubungan, jika itu menjadi gairah dalam hubungan suami istri dan tempatnya “aman”, maka tak ada larangan melakukannya. Allahu A’lam


20150330_164818Tanya : Bismillah … Ustadz Abu Alifa, selama ini yang ana lakukan dalam shalat dhuhur dan ashar, ataupun dua rakaat terakhir yang jumlah rakaat dalam shalat wajib itu lebih dari dua rakaat, bacaan shalatnya adalah hanya membaca surat al-fathihah. Akan tetapi ditempat pegajian ada seorang mubaligh yang membahas masalah ini bahwa ada haditsnya juga setelah al-fathihah dicontohkan membaca lagi surat yang lain. Artinya beliau membolehkannya. Bagaimana pandangan ustadz Abu Alifa mengenai hal ini? Hatur Nuhun MD Pangandaran

Jawab : Apa yang bapak MD lakukan dalam shalat dhuhur dsb yang hanya membaca surat al-fathihah di dua rakaat terakhir, berdasarkan beberapa keterangan diantaranya :

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَال : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِنْ صَلاةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ , يُطَوِّلُ فِي الأُولَى , وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ , وَيُسْمِعُ الآيَةَ أَحْيَاناً ، وَكَانَ يَقْرَأُ فِي الْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ فِي الأُولَى , وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ . وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى مِنْ صَلاةِ الصُّبْحِ , وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ

Dari Abi Qatadah al-Anshary radhiyallahu anh berkata. Bahwa Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam membaca di dua rakaat pertama shalat dhuhur surat al-fathihah dan dua surat yang lain, (cukup) panjang dirakaat pertama, dan memendekkan di rakaat kedua (suratnya), dan terkadang kedengaran bacaannya. Dan beliau juga membaca di shalat Ashar al-fatihah dan dua surat, begitupun rakaat pertama panjang bacaannya, dan mengurangi (panjang) dirakaat kedua. Dan di dua rakaat akhir (hanya) membaca surat al-fatihah. Dan keadaan Nabi-pun membaca surat yang panjang dirakaat awal shalat shubuh dan mengurangi (panjangnya) dirakaat kedua (HR.Bukhari Muslim)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ وَأَبَانُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ أَحْيَانًا وَيَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“…Dari Abi Qatadah dari bapaknya, bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam membaca di dua rakaat pertama shalat dhuhur dan ashar dengan al-afathihah dan surat (yang lainnya), bahkan terkadang suka diperdengarkan bacaan ayat-ayat itu. Dan beiau (hanya) membaca di dua rakaat terakhir dengan al-fathihah (HR.Muslim)

“…أن ابن مسعود كان يقرأ في الظهر والعصر في الركعتين الأوليين بفاتحة الكتاب وما تيسر وفي الأخريين بفاتحة الكتاب

Sesungguhnya Ibnu Mas’ud membaca dalam shalat dhuhur dan ashar di dua rakaat pertama al-fatihah dan (surat) yang mudah (hafal selain al-fatihah). Dan di dua rakaat terakhir hanya membaca al-fatihah (Ibn Abi Syaibah)

Sedangkan yang “membolehkan” membaca surat selain al-fatihah didua rakaat akhir, diantaranya didasarkan pada keterangan :

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه ، قال : كنا نحزر قيام رسول الله صلى الله عليه وسلم في الظهر والعصر ، فحزرنا قيامه في الركعتين الأوليين من الظهر قدر قراءة : الم تنزيل السجدة – وفي رواية – : في كل ركعة قدر ثلاثين آية ، وحزرنا قيامه في الأخريين قدر النصف من ذلك ، وحزرنا في الركعتين الأوليين من العصر على قدر قيامه في الأخريين من الظهر ، وفي الأخريين من العصر على النصف من ذلك ، رواه مسلم

Dari Abi Sa’id al-Khudri radhiyallahu anh berkata : Kami memperhatikan berdirinya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di shalat dhuhur dan ashar. Kami perhatian berdirinya beliau di dua rakaat pertama dhuhur seukuran membaca (surat) alif lam mim tanzil as-Sajdah- dalam satu riwayat- tiap rakaat seukuran 30 ayat- dan kami perhatikan lamanya berdiri didua rakaat akhir setengahnya dari dua rakaat pertama. Sedangkan kami perhatikan lamanya berdiri dalam shalat ashar di dua rakaat pertama seukuran lamanya dua rakaat akhir shalat dhuhur. Dan lamanya dua rakaat akhir shalat ashar setengahnya dari dua rakaat pertamanya. (HR.Muslim)

Dengan demikian sebagian ulama membolehkan membaca di dua rakaat terahir untuk shalat dzuhur dan ashar lebih dari surat al-Fatihah. Ini termasuk perbedaan pendapat ulama yang sifatnya mubah. Bukan perbedaan yang satu hukumnya terlarang dan yang satu mubah. Boleh saja di dua rakaat terakhir, pada masing-masing rakaat seseorang membaca al-Fatihah saja. Boleh juga di dua rakaat terakhir dia tambahi dengan surat lain setelah al-Fatihah (lihat Ibnu Khuzaimah1/256) . Hemat ana boleh membaca selain al-fatihah atau surat lain setelah al-fatihah di 2 rakaat yang terakhir. Allohu A’lam

%d blogger menyukai ini: